Apa itu Sistem Pengendalian Intern (SPI): Tujuan, Elemen dan Contohnya

Banyaknya kasus penyelewengan, pencurian, dan penyalahgunaan yang tidak sesuai dengan kepentingan organisasi atau perusahaan telah menghambat pencapaian tujuan perusahaan itu sendiri. Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya penyalahgunaan aset perusahaan, salah satunya adalah masalah pegawai dari segi pemahaman terhadap regulasi, etika, dan lain sebaginya. Dengan kondisi yang seperti ini maka dibutuhkan suatu sistem pengendalian intern (SPI) untuk mencapai tujuan pengelolaan aset atau harga organisasi yang baik, transparan, dan akuntabel.

Via Pixabay.com

Arti Sistem Pengendalian Intern

Menurut Committee of Sponsoring of Treadway Commission (COSO) definisi pengendalian intern adalah suatu proses, yang dilaksanakan oleh dewan direksi, manajemen, dan personel lainnya dalam suatu organisasi atau perusahaan, dalam menyediakan keandalan pelaporan keuangan, kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku, dan pencapaian efektivitas dan efisiensi operasi.

Pengendalian intern merupakan prosedur-prosedur mekanis untuk memeriksa ketelitian data-data adminstrasi dan data keuangan, termasuk mendorong efisiensi dan dipenuhinya kebijakan menejemen. Sementara itu Sistem Pengendalian Intern (SPI) merupakan suatu sistem pengendalian yang dibentuk untuk membantu pelaksanaan tugas dan fungsi organisasi terkait dengan persetujuan atas transaksi keuangan dan operasional dalam menunjang keberlangsungan organisasi.

 

Tujuan Pengendalian Intern

Berikut ini adalah tujuan diperlukannya sistem pengendalian intern:

  1. Melindungi dan mengamankan harta atau aset organisasi hanya digunakan untuk kepentingan organisasi semata dan bukan untuk kepentingan individu.
  2. Mengusahakan agar aktivitas dapat berjalan selaras dengan perencanaan dan mengarah pada sasaran yang ditetapkan.
  3. Pengendalian intern membangun keyakinan (assurance) kepada manajemen dan dewan direksi suatu entitas bahwa laporan keuangan terbebas salah saji material (Material misstatement).
  4. Meminimalisir atau menghindari adanya penyimpangan, penipuan dan penggelapan terhadap laporan keuangan organisasi atau perusahaan.

5 Elemen Penting dalam Pengendalian Intern

 

Berikut ini lima elemen pengendalian intern dalam sebuah organisasi:

  1. Lingkungan pengendalian (control environment)
    Lingkungan pengendalian menetapkan kondisi suatu organisasi, yang mempengaruhi kesadaran akan pengendalian dari orang-orangnya dan memperbaiki efektivitas kebijakan dari prosedur-prosedur tertentu. Faktor- faktor itu mencakup: struktur organisasi, filosofi dan gaya operasional manajemen, pelimpahan wewenang dan tanggung jawab.
  2. Penilaian resiko (risk assessment)
    Yaitu pengidentifikasian dan analisis entitas mengenai resiko yang relevan terhadap pencapaian tujuan entitas. Sehingga dengan adanya penilaian resiko dapat diminimalkan.
  3. Aktivitas pengendalian (control activities)
    Yaitu kebijakan dan prosedur yang membantu meyakinkan bahwa perintah manajemen telah dilaksanakan. Biasanya aktivitas pengendalian terkait dengan pemisahan tugas yang cukup
  4. Informasi dan komunikasi (information and communication)
    Yaitu pertukaran informasi dalam suatu tataran manajemen yang membuat pegawai mampu melaksanakan tanggung jawabnya.
  5. Pemantauan (monitoring)
    Komponen pemantauan ini berkaitan dengan pengawasan terhadap kualitas kinerja pengendalian intern pada suatu waktu.

Sementara itu, semakin gencarnya penggunaan teknologi informasi menuntut adanya pengendalian infrastruktur teknologi informasi dalam organisasi yang baik. Berikut ini adalah komponen pengendalian yang perlu dilakukan oleh organisasi atau perusahaan pada ruang lingkup pengolahan data elektronik:

  1. Pengendalian umum (general control), yaitu meliputiorganisasi, standar operasional prosedur (SOP) dalamperubahan program, pengembangan sistem dan pengoperasian fasilitas pengolahan data.
  2. Pengendalian aplikasi (application control), yaitu pengendalian yang dirancang untuk memenuhi persyaratan pengendalian khusus setiap sistem aplikasi, meliputi pengendalian preventif dan pengendalian detektif. Pengendalian preventif merupakan pengendalian yang dilakukan untuk mencegah terjadinya masalah pengolahan data elektronik. Sedangka pengendalian detektif adalah pengendalian yang dilakukan guna memberi petunjuk dimana letak terjadinya masalah.

Contoh Sistem Pengendalian Intern

Nyatanya tanpa pengendalian intern yang ideal dan terjadwal, perkembangan organisasi berisiko kehilangan arah sehingga tidak berjalan efektif dan efisien. Untuk dapat mewujudkannya, ada sejumlah aktivitas yang mesti diwujudkan sebagai prosedur dan pedoman pelaksanaan operasional organisasi. Berikut ini adalah contoh aktivitas sistem pengendalian intern dalam sebuah organisasi:

  • Formalisasi kode etik organisasi meliputi penerapan nilai, etika, integritas pegawai yang dapat diakses oleh seluruh pegawai melalui media intranet (portal).
  • Penggunaan program dan aplikasi mobile maupun dekstop yang terintegrasi dalam transaksi keuangan dan operasional, misalnya sistem penjualan, dan sistem manajemen SDM.
  • Pemisahan fungsi sesuai tugas, tanggung jawab, dan kewenangan dalam struktur organisasi proyek dan unit usaha.
  • Pendelegasian supervisi atau supervisor yang mengawasi setiap tugas dan tanggung jawab bawahannya.

Pada prinsipnya, sistem pengendalian intern merupakan satu hal yang penting dalam menunjang pembinaan organisasi yang sehat dan ideal. Ruang lingkupnya pun luas, tidak hanya pada segi keuangan, namun juga menyangkut manajemen kepegawaian.

Demikianlah penjelasan mengenai apa itu sistem pengendalian intern (SPI), tujuan pengendalian intern, dan apa saja komponen yang harus ada di dalam pengendalian intern.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *